Keamanan dan Data

Modus Penipuan terhadap Penjual Online: APK, Permintaan OTP, dan Bukti Transfer Palsu

Penipu butuh penjual memasang sesuatu, menyebutkan kode, atau percaya bukti yang belum terbukti. Kenali polanya dan ketahui kanal lapor bila telanjur.

Ilustrasi AI: penjual daring menatap ponsel dengan ragu di meja kerja berisi paket kardus, sementara tangan satunya menjauh dari layar
Ilustrasi AI: berhenti sejenak sebelum membuka berkas atau tautan dari pesan, kebiasaan yang menutup banyak celah penipuan terhadap penjual.

Penipu yang menyasar penjual daring tidak perlu meretas sistem bank. Mereka cukup membuat penjual melakukan satu dari tiga hal: memasang aplikasi dari pesan, menyebutkan kode sekali pakai, atau menyerahkan barang sebelum uang benar-benar masuk. Ketiganya terjadi di tengah kesibukan melayani pesanan, ketika pesan masuk bertubi-tubi dan setiap pembeli ingin cepat dilayani. Modus yang paling sering dihadapi penjual kecil disusun di bawah ke dalam kartu sederhana: cara kerjanya, tanda yang bisa dikenali, dan cara memeriksanya. Bagian akhir membahas langkah bila telanjur menjadi korban dan kanal pelaporan resmi yang dapat dipakai, sebagaimana tercantum di laman resmi lembaga terkait per pemeriksaan 17 Oktober 2026.

Angka kerugian dan statistik sengaja tidak dicantumkan. Yang lebih berguna bagi penjual adalah kemampuan mengenali pola, karena wujud penipuan berganti cepat sementara polanya relatif tetap. Kartu-kartu di bawah dapat dibaca bersama pegawai atau anggota keluarga yang ikut memegang ponsel usaha, lalu disepakati menjadi aturan kerja bersama.

Kartu 1: berkas aplikasi yang menyamar sebagai resi, foto pesanan, atau undangan

Cara kerja. Bank Indonesia, dalam artikel edukasi tentang modus penipuan lewat berkas APK, menjelaskan bahwa pelaku mengirim berkas berformat .APK melalui aplikasi pesan agar calon korban mengklik dan memasangnya. Setelah dipasang, aplikasi meminta izin akses yang membuat pelaku dapat mencuri data dari perangkat, mulai dari informasi pribadi, SMS, hingga informasi perbankan rahasia seperti OTP. BI menyebut modus undangan pernikahan dan modus kurir paket sebagai dua contoh yang marak. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menjelaskan rantai izinnya secara lebih rinci: aplikasi meminta izin membaca SMS, menerima SMS, lalu mengirim SMS, sehingga pelaku dapat membaca, memantau, menghapus pesan, dan mengakses riwayat SMS banking untuk mengirim uang dari rekening korban.

Mengapa penjual rentan. Penjual terbiasa menerima berkas dari orang tak dikenal: foto produk yang diinginkan, daftar pesanan, bukti pengiriman. Pesan seperti “Kak, ini foto barang yang mau dipesan” atau “Paket Anda tertahan, cek resi di sini” terasa wajar dalam alur kerja sehari-hari.

Tanda yang bisa dikenali. Nama berkas berakhiran .apk, atau ikon berkas yang bukan gambar maupun dokumen. Foto dan PDF tidak pernah perlu “dipasang”. Permintaan izin untuk membaca SMS dari aplikasi yang mengaku sebagai undangan atau pelacak paket adalah tanda bahaya yang jelas.

Cara memeriksa. Minta pengirim mengirim ulang sebagai gambar biasa atau teks. Untuk resi, ketik sendiri nomor resi di aplikasi atau situs resmi kurir yang sudah terpasang, bukan lewat tautan dari pesan. BI dan BSSN sama-sama menyarankan memasang aplikasi hanya dari toko aplikasi resmi dan berhati-hati memberi izin akses.

Kartu 2: “kode verifikasinya salah kirim ke nomor ini”

Cara kerja. Penipu mencoba masuk ke akun penjual, misalnya akun aplikasi pesan, akun marketplace, atau dompet elektronik, dengan nomor ponsel penjual. Sistem mengirim kode sekali pakai ke ponsel penjual. Penipu lalu menghubungi penjual dengan alasan yang terdengar masuk akal: kode salah kirim, verifikasi hadiah, konfirmasi pesanan besar, atau mengaku petugas layanan pelanggan yang sedang “mengamankan akun”. Begitu kode disebutkan, akun berpindah tangan.

Mengapa berbahaya bagi penjual. Akun yang diambil alih dipakai untuk menipu pelanggan penjual sendiri: meminta transfer ke rekening lain, menawarkan promo palsu, atau meminta kode dari kontak lain. Kerugian kepercayaan bisa lebih besar daripada kerugian uang.

Tanda yang bisa dikenali. Ada SMS atau notifikasi berisi kode yang tidak diminta, lalu segera disusul pesan atau telepon yang meminta kode itu. Teks SMS kode biasanya sudah memperingatkan agar tidak membagikannya kepada siapa pun.

Cara memeriksa. Tidak perlu memeriksa. Kode sekali pakai tidak untuk dibagikan, titik. BI dalam tips keamanannya menyebut jangan pernah membagikan PIN, kata sandi, OTP, atau data lain kepada siapa pun. Aktifkan juga verifikasi dua langkah tambahan di aplikasi pesan dan akun penting, sehingga kode SMS saja tidak cukup untuk mengambil alih akun; rinciannya dapat dibaca di uraian mengunci akun dengan verifikasi dua langkah.

Kartu 3: bukti transfer palsu

Cara kerja. Pembeli mengirim tangkapan layar transfer “berhasil” yang sebenarnya hasil suntingan, berasal dari transaksi lain, atau dibuat dengan aplikasi pembuat bukti palsu. Penjual yang sibuk melihat gambar itu, merasa yakin, lalu mengirim barang.

Tanda yang bisa dikenali. Pembeli mendesak barang segera dikirim, nominal atau nama penerima tampak sedikit janggal, atau pembeli menolak menunggu dana masuk dengan berbagai alasan. Namun tanda visual tidak dapat diandalkan; suntingan yang rapi sulit dibedakan dengan mata.

Cara memeriksa. Satu-satunya bukti yang dapat dipegang penjual adalah mutasi di rekening atau notifikasi di aplikasi merchant milik penjual sendiri. Jadikan aturan tertulis bahwa pesanan diproses setelah dana tercatat masuk, dan sampaikan aturan itu di katalog atau profil sejak awal, sehingga tidak terasa seperti kecurigaan pribadi kepada pembeli tertentu. Untuk pembayaran QRIS, pegangan yang sama berlaku: notifikasi di perangkat merchant, bukan layar ponsel pembeli. Rinciannya dapat dibaca di uraian QRIS untuk usaha mikro.

Ilustrasi AI: ponsel tertelungkup di samping gembok terbuka dan gembok terkunci di meja kayu, dengan paket kecil di latar belakang
Ilustrasi AI: gembok terbuka dan terkunci sebagai kiasan pilihan antara menuruti permintaan dalam pesan dan menahan diri sampai bukti benar-benar masuk.

Kartu 4: “transfernya kelebihan, tolong kembalikan”

Cara kerja. Pembeli mengaku mentransfer lebih dari harga, misalnya Rp1.500.000 untuk pesanan Rp150.000, lalu meminta selisihnya dikembalikan ke rekening lain. Bukti yang dikirim palsu, atau uang memang masuk tetapi berasal dari korban lain yang ditipu pelaku, sehingga rekening penjual kelak ikut diblokir dalam penelusuran.

Tanda yang bisa dikenali. Kelebihan transfer yang tidak lazim, permintaan pengembalian ke rekening berbeda dari rekening pengirim, dan desakan waktu.

Cara memeriksa. Periksa mutasi rekening sendiri. Bila memang ada kelebihan dana masuk, kembalikan hanya ke rekening pengirim asal yang tercatat di mutasi, bukan ke rekening lain yang disebut dalam pesan. Bila ragu, minta pembeli menghubungi banknya untuk proses koreksi resmi, dan konsultasikan dengan bank penjual.

Kartu 5: tautan “verifikasi toko” atau “pencairan dana” yang mengatasnamakan platform

Cara kerja. Penjual menerima pesan yang tampak dari marketplace, kurir, bank, atau lembaga pemerintah: toko akan ditutup bila tidak diverifikasi, dana penjualan tertahan, atau ada hadiah untuk penjual berprestasi. Pesan memuat tautan ke halaman yang meniru tampilan resmi dan meminta nama pengguna, kata sandi, kode OTP, atau data rekening.

Tanda yang bisa dikenali. Ancaman atau iming-iming dengan tenggat sangat singkat, alamat situs yang mirip tetapi tidak sama dengan alamat resmi, dan permintaan data yang seharusnya tidak pernah ditanyakan, seperti kode OTP. Otoritas Jasa Keuangan, dalam peringatannya tentang penipuan yang mengatasnamakan petugasnya, menyarankan memastikan kebenaran informasi lewat kontak resmi OJK, yaitu telepon 157, WhatsApp 081-157-157-157, atau email konsumen@ojk.go.id.

Cara memeriksa. Jangan membuka tautan dari pesan. Buka aplikasi atau situs resmi dengan mengetik sendiri alamatnya atau melalui aplikasi yang sudah terpasang, lalu periksa apakah pemberitahuan yang sama muncul di sana. Pemberitahuan resmi platform biasanya juga tampil di dalam aplikasi, bukan hanya lewat pesan pribadi. Waspadai pula kode QR yang dikirim lewat pesan dengan klaim “pindai untuk menerima dana”: menerima uang tidak pernah memerlukan memindai kode dan memasukkan PIN.

Kartu 6: pesanan besar dengan “biaya” di muka

Cara kerja. Seseorang mengaku mewakili kantor, sekolah, atau panitia acara dan memesan dalam jumlah besar. Sebelum pesanan dibayar, penjual diminta membayar sesuatu lebih dulu: biaya pendaftaran rekanan, biaya administrasi, pajak, atau membeli barang dari “pemasok rekanan” yang ternyata bagian dari jaringan penipu.

Tanda yang bisa dikenali. Penjual diminta mengeluarkan uang sebelum menerima uang, kontak hanya lewat aplikasi pesan tanpa alamat kantor yang dapat dikunjungi, dan surat pesanan yang kop atau tanda tangannya tidak dapat dipastikan.

Cara memeriksa. Hubungi instansi pemesan lewat nomor yang tercantum di situs resmi instansi itu, bukan nomor dalam pesan. Instansi yang benar-benar memesan tidak meminta penjual membayar biaya pendaftaran ke rekening pribadi. Untuk pesanan besar dari pihak baru, minta uang muka sesuai kesepakatan tertulis sebelum produksi dimulai.

Kartu 7: akun tiruan yang memakai nama toko

Cara kerja. Pelaku membuat akun media sosial atau nomor aplikasi pesan dengan nama, foto profil, dan foto produk yang disalin dari toko asli. Akun itu menghubungi pengikut atau pelanggan toko, menawarkan promo besar, lalu meminta transfer ke rekening pelaku. Penjual asli sering baru tahu ketika pelanggan mengeluh barangnya tidak dikirim.

Tanda yang bisa dikenali. Pelanggan menanyakan promo yang tidak pernah dibuat, atau menyebut nomor rekening yang bukan milik toko. Akun tiruan biasanya baru dibuat dan memiliki sedikit unggahan.

Cara menanggapi. Umumkan di semua kanal resmi daftar akun dan nomor rekening yang sah, dan tegaskan bahwa toko tidak pernah meminta transfer ke rekening lain. Laporkan akun tiruan melalui fitur laporan di platform terkait dengan bukti bahwa toko asli sudah ada lebih dulu, misalnya tautan profil resmi dan foto produk asli. Bila pelanggan sudah mentransfer, arahkan mereka melapor ke IASC dan polisi seperti diuraikan di bawah; penjual dapat membantu dengan memberikan bukti bahwa rekening tujuan bukan milik toko.

Kartu 8: klaim palsu setelah barang diterima

Cara kerja. Pembeli mengaku barang tidak sampai, rusak, atau berbeda, lalu meminta pengembalian dana tanpa mengembalikan barang. Ada pula yang mengembalikan barang lain atau kemasan kosong. Modus ini menyasar penjual yang tidak memiliki bukti kondisi barang saat dikirim.

Tanda yang bisa dikenali. Klaim diajukan tanpa foto yang jelas, foto tidak cocok dengan barang yang dikirim, atau pembeli menolak mengikuti prosedur pengembalian resmi.

Cara memeriksa. Biasakan merekam atau memotret barang dan proses pengemasan untuk pesanan bernilai besar, dengan nomor pesanan terlihat di samping paket. Simpan resi dan status pelacakan. Untuk penjualan di marketplace, ikuti jalur penyelesaian sengketa di platform dan unggah bukti tersebut; untuk penjualan langsung, ketentuan pengembalian yang tertulis di katalog atau website menjadi pegangan kedua belah pihak. Perlakukan pembeli dengan sopan; tidak semua klaim adalah penipuan, dan barang memang bisa rusak di perjalanan.

Tabel ringkas: tanda bahaya dan tindakan

Tanda bahaya Modus yang mungkin Tindakan aman
Berkas berakhiran .apk dari orang tak dikenal Aplikasi pencuri SMS dan OTP Jangan dibuka; minta kiriman ulang sebagai gambar atau teks
Kode sekali pakai masuk tanpa diminta, lalu ada yang menanyakannya Pengambilalihan akun Jangan sebutkan kode; periksa pengamanan akun
Tangkapan layar transfer dengan desakan kirim segera Bukti transfer palsu Proses setelah dana tercatat di rekening sendiri
Kelebihan transfer dan permintaan pengembalian ke rekening lain Penipuan pengembalian dana Cek mutasi; kembalikan hanya ke rekening asal bila memang ada
Tautan “verifikasi” dengan ancaman penutupan toko Situs tiruan pencuri akun Buka aplikasi resmi secara langsung
Diminta membayar biaya sebelum menerima pembayaran Pesanan fiktif Verifikasi lewat kontak resmi pemesan

Simulasi: satu sore yang sibuk

Contoh rekaan berikut menggabungkan beberapa kartu dalam satu rangkaian kejadian, karena di lapangan modus sering datang berdekatan. Pemilik toko camilan fiktif “Renyah Pagi” sedang mengemas belasan pesanan menjelang sore. Pesan pertama datang dari nomor tak dikenal: “Paket Kakak tertahan, cek resinya di sini,” disertai berkas bernama seperti resi tetapi berakhiran .apk. Ia tidak membukanya; nomor resi semua pesanannya sudah tercatat di buku pengiriman, dan tidak ada yang cocok.

Beberapa menit kemudian masuk SMS berisi kode verifikasi aplikasi pesan yang tidak ia minta, disusul telepon dari seseorang yang mengaku petugas aplikasi dan meminta kode itu “untuk mengamankan akun”. Ia menolak dan menutup telepon. Karena verifikasi dua langkah di aplikasi pesannya sudah aktif dengan kata sandi tambahan, kode SMS saja tidak cukup bagi pelaku.

Menjelang magrib, seorang pembeli baru mengirim tangkapan layar transfer Rp450.000 untuk pesanan Rp45.000 dan meminta selisihnya dikembalikan ke rekening istrinya. Ia membuka aplikasi bank: tidak ada dana masuk sama sekali. Ia membalas dengan kalimat yang sudah disiapkan, bahwa pengembalian hanya dilakukan ke rekening asal setelah dana tercatat. Pembeli itu tidak membalas lagi. Malamnya, ia menyimpan tangkapan layar ketiga kejadian, memblokir nomor-nomor tersebut, melaporkannya di aplikasi, dan menuliskan polanya di grup pegawai sebagai pengingat.

Tidak ada langkah canggih dalam simulasi ini. Yang bekerja adalah aturan yang sudah diputuskan sebelumnya, sehingga keputusan di tengah kesibukan tidak bergantung pada perasaan saat itu.

Menyiapkan ponsel usaha

Ponsel yang dipakai untuk aplikasi bank, merchant, dan marketplace layak diperlakukan lebih ketat daripada ponsel pribadi. BSSN menyarankan memasang aplikasi hanya dari toko aplikasi resmi, teliti memberi izin akses, serta memperbarui sistem operasi, aplikasi, dan peramban secara berkala. Dalam praktik, langkah-langkah itu dapat diterjemahkan menjadi: pastikan pengaturan yang mengizinkan pemasangan aplikasi dari sumber tidak dikenal dalam keadaan nonaktif; tinjau izin aplikasi yang sudah terpasang dan cabut izin membaca SMS dari aplikasi yang tidak membutuhkannya; aktifkan pembaruan otomatis; dan pasang kunci layar yang tidak mudah ditebak. Bila memungkinkan, jangan pakai ponsel ini untuk bermain gim, mengunduh berkas dari grup obrolan umum, atau dipinjamkan.

Kalimat sopan untuk menolak

Banyak penjual sulit menolak karena takut dianggap tidak ramah dan kehilangan pembeli. Kalimat yang sudah disiapkan membantu menolak tanpa menuduh. Beberapa contoh yang bisa disesuaikan:

  • Untuk berkas yang mencurigakan: “Mohon maaf, berkas ini tidak bisa dibuka di perangkat toko. Boleh dikirim sebagai foto atau ditulis saja pesanannya?”
  • Untuk permintaan kode: “Kode verifikasi tidak dibagikan kepada siapa pun, termasuk petugas. Bila ada kendala akun, silakan hubungi layanan resmi lewat aplikasi.”
  • Untuk desakan kirim sebelum dana masuk: “Pesanan langsung diproses begitu dana tercatat di rekening toko. Biasanya tidak lama setelah transfer berhasil.”
  • Untuk kelebihan transfer: “Bila memang ada kelebihan, dana dikembalikan ke rekening pengirim asal setelah tercatat di mutasi. Silakan juga konfirmasi ke bank pengirim.”

Pembeli yang jujur umumnya memahami aturan yang dijelaskan dengan tenang. Pembeli yang terus mendesak dan menolak semua cara aman memberi sinyal sendiri, dan pada titik itu lebih baik melepas satu pesanan daripada kehilangan barang dan uang sekaligus.

Mencatat kejadian sejak awal

Bila ada percakapan yang mencurigakan, jangan langsung menghapusnya. Tangkap layar profil pengirim, nomor, isi pesan, berkas yang dikirim (tanpa membukanya), dan waktu kejadian. Catatan ini berguna untuk laporan ke platform, IASC, atau polisi, dan untuk mengingatkan pegawai lain tentang pola yang sama. Setelah bukti tersimpan, blokir dan laporkan akun tersebut di aplikasi.

Bila telanjur memasang aplikasi dari pesan

Bank Indonesia menyusun lima langkah bagi yang telanjur mengklik berkas APK penipuan:

  1. Matikan akses internet: data seluler dan Wi-Fi, untuk menghentikan aplikasi berbahaya mengirim data.
  2. Hapus aplikasi mencurigakan melalui menu pengaturan aplikasi.
  3. Hubungi bank sesegera mungkin agar kartu atau rekening dapat diblokir dan langkah pengamanan lain diambil.
  4. Ganti kata sandi semua akun yang terhubung, seperti bank, email, dan media sosial, dengan kata sandi yang kuat dan berbeda.
  5. Setel ulang pabrik (opsional) setelah mencadangkan data penting, bila masih ragu perangkat sudah bersih.

Untuk penjual, tambahkan dua langkah. Pertama, ganti kata sandi dari perangkat lain yang aman, bukan dari ponsel yang mungkin masih terinfeksi. Kedua, beri tahu pelanggan lewat kanal lain, misalnya status di media sosial atau pesan dari nomor lain yang sudah dikenal, bahwa akun mungkin disalahgunakan dan pelanggan tidak boleh mentransfer ke rekening yang tidak biasa. Bila data pelanggan ikut terungkap, ada kewajiban pemberitahuan menurut UU PDP; penjelasan lengkapnya ada di panduan inventaris data pelanggan.

Bila sudah mentransfer uang ke penipu

Laman Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dikelola OJK menyebut dua hal yang wajib dilakukan segera oleh korban penipuan transaksi keuangan: melapor ke IASC melalui portalnya untuk jalur penanganan finansial, yaitu upaya pemblokiran rekening, dan membuat laporan polisi di kantor polisi terdekat untuk jalur proses hukum.

IASC dijelaskan sebagai forum koordinasi terpusat yang dipimpin OJK melalui Satgas PASTI, menghubungkan laporan korban ke lembaga keuangan terkait seperti bank dan dompet elektronik. Menurut uraian di lamannya, laporan pertama-tama diverifikasi oleh lembaga keuangan tempat korban bertransaksi, lalu diteruskan ke lembaga yang menaungi rekening pelaku untuk penundaan transaksi atau pemblokiran, penelusuran aliran dana, dan bila dana mengalir ke lembaga lain, laporan berantai ke lembaga tersebut. Tujuannya menunda transaksi pada rekening pelaku secepat mungkin dan mengupayakan pengembalian sisa dana. Tidak ada jaminan dana kembali, tetapi kecepatan melapor menentukan seberapa banyak dana yang masih dapat diamankan.

Yang perlu disiapkan sebelum membuka formulir IASC

Laman IASC merinci empat kelompok informasi:

  • Data pelapor: nama, nomor identitas, domisili, alamat, nomor telepon dan email aktif, serta pindaian identitas. Bila melapor mewakili korban, perlu surat kuasa dan identitas korban.
  • Data terlapor: nama bila diketahui, nomor telepon, serta akun atau media tempat penipuan terjadi.
  • Detail kejadian dan transaksi: kronologi dengan tanggal dan jam, data rekening korban, data rekening tujuan, serta tanggal, jam, dan nominal transfer. Satu formulir difokuskan pada transaksi dari satu rekening korban ke satu rekening terlapor; transfer ke beberapa rekening mungkin memerlukan laporan terpisah.
  • Bukti pendukung: bukti transaksi (wajib), tangkapan layar percakapan, dan tangkapan layar sumber penipuan seperti iklan atau situs palsu.

Menurut alur yang dijelaskan IASC, laporan pertama kali diverifikasi oleh lembaga keuangan tempat korban bertransaksi. Karena itu, menghubungi bank atau penyedia dompet elektronik sendiri pada saat yang sama sering mempercepat langkah awal, terutama untuk mengamankan akun yang mungkin masih dapat diakses pelaku. Laporan polisi sebaiknya memuat kronologi yang sama dengan laporan IASC, beserta salinan bukti, agar kedua jalur saling menguatkan.

Setelah melapor, simpan nomor laporan untuk melacak perkembangannya. Kebiasaan menyimpan bukti transaksi dan riwayat percakapan secara rapi, yang juga berguna untuk pencatatan usaha, sangat membantu di saat seperti ini.

Bila pelaku masih menghubungi setelah kejadian

Setelah berhasil, pelaku kadang kembali dengan cerita baru: mengaku petugas yang bisa membantu memulihkan dana dengan imbalan biaya, atau mengancam menyebarkan data. Tawaran “pemulihan dana” berbayar dari pihak yang menghubungi lebih dulu adalah pola penipuan lanjutan. Jalur resmi untuk upaya pengembalian dana adalah laporan ke IASC dan proses di lembaga keuangan, bukan perantara yang meminta transfer. Simpan bukti pesan lanjutan itu dan tambahkan ke laporan yang sudah dibuat.

Melaporkan konten dan akun penipuan

Laman Aduan Konten milik Kementerian Komunikasi dan Digital (aduankonten.id) menerima laporan konten negatif berupa domain atau URL. Laman itu sendiri mengarahkan: bila konten yang dilaporkan adalah penipuan dengan kerugian material, laporkan ke IASC; bila berupa entitas keuangan ilegal seperti pinjaman daring atau investasi ilegal, laporkan ke SIPASTI OJK. Untuk akun penipu di marketplace atau aplikasi pesan, gunakan juga fitur laporan di dalam aplikasi masing-masing, karena platform dapat menindak akun di dalam sistemnya.

Membangun kebiasaan yang membuat penipu mencari target lain

Penipu memilih target yang mudah. Beberapa kebiasaan sederhana membuat usaha kecil menjadi target yang merepotkan:

  • Aturan pembayaran tertulis di katalog dan profil: pesanan diproses setelah dana tercatat, pengembalian dana hanya ke rekening asal.
  • Satu perangkat khusus usaha untuk aplikasi merchant dan perbankan, yang tidak dipakai untuk membuka berkas dari orang tak dikenal.
  • Verifikasi dua langkah di aplikasi pesan, email, marketplace, dan dompet elektronik.
  • Kontak resmi yang konsisten di semua kanal, sehingga pelanggan dapat mengenali akun tiruan. Penjelasan lengkapnya ada di catatan tentang data kontak yang konsisten.
  • Pelatihan singkat untuk siapa pun yang memegang ponsel usaha: tidak membuka berkas .apk, tidak menyebutkan kode, dan selalu memeriksa mutasi sebelum mengirim barang.

Kebiasaan ini tidak menjamin usaha bebas dari penipuan, karena modus terus berganti. Namun pola dasarnya tetap: penipu membutuhkan penjual memasang sesuatu, menyebutkan sesuatu, atau mempercayai sesuatu yang belum terbukti. Menolak ketiganya secara konsisten menutup sebagian besar pintu masuk.

Peringatan dan kanal resmi yang dirujuk

Pertanyaan yang sering diajukan

Pembeli mengirim foto pesanan dalam bentuk berkas yang harus diinstal, apa yang harus dilakukan?

Jangan dibuka. Foto dan dokumen tidak perlu dipasang. Minta pembeli mengirim ulang sebagai gambar biasa atau teks.

Apakah petugas marketplace atau bank pernah meminta kode OTP?

Kode sekali pakai tidak untuk dibagikan kepada siapa pun. Bank Indonesia mengingatkan agar PIN, kata sandi, dan OTP tidak dibagikan.

Uang saya sudah terkirim ke penipu, ke mana melapor?

Laman IASC menyebut dua langkah segera: lapor ke portal IASC untuk upaya pemblokiran rekening dan buat laporan polisi untuk proses hukum.

Apakah laporan ke IASC menjamin uang kembali?

Tidak ada jaminan. IASC berupaya menunda transaksi pada rekening pelaku dan mengupayakan pengembalian sisa dana, sehingga kecepatan melapor penting.